Penyakit Stroke
merupakan salah satu penyakit yang sungguh mengerikan dan menjadi penyebab
kematian no 3 di Indonesia setelah penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan
kanker. Serangan stroke selalu datang mendadak tanpa tanda-tanda pasti.
Stroke adalah penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai
dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan
oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya
pembuluh darah.
Pengertian Stroke
WHO mendefinisikan bahwa
stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh
penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.
Di Amerika Serikat
setiap tahunnya 15.000-an orang berusia antara 30-44 tahun terserang stroke. Di
Indonesia angkanya tidak pernah jelas. Harap maklum, karena data belum dianggap
penting. Tapi para pakar sependapat bahwa usia penderita stroke di sini semakin
muda.
Faktor Penyebab Stroke
1. Faktor resiko medis,
antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah
tinggi), Kolesterol,
Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), Gangguan jantung, diabetes, Riwayat
stroke dalam keluarga,
2. Faktor resiko
perilaku, antara lain Merokok (aktif & pasif), Makanan tidak sehat (junk
food, fast food), Alkohol, Kurang olahraga, Mendengkur, Kontrasepsi oral,
Narkoba, Obesitas.
3. 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan
arteriosklerosis, Menurut statistik. 93% pengidap penyakit trombosis ada
hubungannya dengan penyakit tekanan darah tinggi.
4. Pemicu stroke pada
dasarnya adalah, suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah), terlalu banyak
minum alkohol, merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak.
Tanda dan
Gejala-gejala Stroke
Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala-gejala
stroke terbagi menjadi berikut:
1.
Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku,
menurunnya fungsi sensorik
2.
Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan
membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks
menurun, ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak jantung terganggu,
lidah lemah.
3.
Cerebral cortex: aphasia, apraxia, daya ingat menurun,
hemineglect, kebingungan.
Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang
dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), dimana
merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke.
Jika Anda tak ingin dan
belum menjadi korbannya, mulai sekarang juga harus melakukan tindakan
pencegahan. Berikut ini sejumlah saran dari Harold P. Adams, Jr. MD., profesor
neurologi di University of Iowa Hospital and Clinic, Iowa City, AS., untuk
mengurangi risiko stroke.
1.
Periksa tekanan darah secara rutin. Riset menunjukkan, rajin
kontrol mengurangi 40 persen risiko stroke. “Mengontrol tekanan darah tinggi
itu vital bagi pencegahan stroke,” ujar Prof. Adams. Bila lebih dari 140/90,
berarti tekanan darah Anda tinggi. Usahakan untuk menurunkannya.
2.
Singkirkan tembakau. Hasil studi memperlihatkan, menjauhi tembakau
mengurangi risiko stroke sampai 33 persen. “Tidak ada istilah merokok sedikit.
Harus berhenti sama sekali, sejak saat ini!” tandas Prof. Adams.
3.
Periksa leher Anda. Mintalah dokter mendengarkan bunyi mendesing
di leher Anda. Ini terutama penting jika Anda mengalami aterosklerosis
(pengerasan dan penebalan pembuluh darah) yang menyebabkan tersumbatnya aliran
darah.
4.
Lakukan latihan olahraga. Riset menunjukkan, mereka yang mulai
latihan pada usia antara 25-40 tahun, risikonya terserang stroke berkurang 57
persen. Sedangkan yang mulai latihan saat usianya 40-55 tahun, kesempatannya 37
persen lebih baik untuk terhindar dari stroke.
5.
Asal hijau atau oranye, santap saja. Terlalu dini menyebut
beta-karoten dapat mencegah stroke. Tapi makan sayur dan buah (sumber
6.
beta-karoten) lebih banyak setiap harinya, kata Prof. Adams,
sangat baik.
7.
Makanlah potasium. Riset menegaskan, mengkonsumsi makanan kaya
potasium sehari-hari, mengurangi risiko stroke 40 persen. Kentang adalah sumber
potasium yang baik, selain alpukat, kedelai, pisang, salmon dan tomat.
8.
Kenali kandungan aspirin. Memang aspirin sering disebut bisa
membantu mencegah stroke. “Tapi kalau Anda tidak memiliki risiko stroke,
dampaknya bisa kurang baik,” ujar Prof. Adams. Konsultasilah pada dokter.
9.
Kurangi lemak. Apa yang baik bagi jantung Anda, baik pula bagi
otak. Menjaga kadar kolesterol berarti menghambat aterosklerosis dan stroke.
Makanlah lemak tidak lebih dari 25 persen kebutuhan kalori.
10.
Jauhi alkohol. Kalau Anda belum berkenalan dengan alkohol, lebih
baik tidak usah kenal, walau ada penelitian yang menyatakan bahwa dalam jumlah
tertentu bisa mencegah stroke dan serangan jantung. Sebab, tidak pernah jelas
ukuran minum secukupnya itu
Karena Ancaman stroke
hingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke. Hidup BEBAS tanpa STROKE
merupakan dambaan bagi semua orang.
Tak heran semua orang
selalu berupaya untuk mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan
menerapkan pola hidup sehat, olahraga teratur, penghindari stress hingga
meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat
mencegah terjadinya Stroke.